Minggu, 15 April 2012

Novel | Wajah Kedua (Part 3)

Part 3
Fans Club Pemuja Arya

Ternyata nggak hanya Matematika en Fisika doang, Bahasa Inggris pun dikuasai dengan baik oleh Arya. Aku mengecek setiap kata-kata yang udah dia artikan ternyata benar. Aku benar-benar kagum padanya. Tapi, kok dia pulang cepat banget sih. Aku kan pingin lebih tau banyak tentang dia. Lagian, lirik yang harus diartikan bukan Cuma satu, tapi lima. Terpaksa deh yang empatnya aku selesaiin sendiri.
Tak terasa angkot yang aku tumpangin sudah berada di depan sekolah. Kalo bukan karena penumpang lain yang juga satu sekolah mengatakan berhenti, tentu aku sudah terlewat hingga ke terminal karena lamunanku.
Aku berjalan menuju gerbang sekolah, di sana telah berdiri dua orang cewek, sepertinya anak kelas tiga juga yang terus melototin aku sejak turun dari angkot.
“Hei! Kamu Reni kan? Anak IPA 2?” tanya salah seorang cewek berdandan agak menor.
“Iya. Emang kenapa?” tanyaku.
“Kemarin kamu ketemuan sama Arya kan? Kamu nggak macem-macem sama dia kan?” teman cewek menor mulai menginterogasi ku.
“Maksudnya?” tanyaku bingung.
“Jangan mentang-mentang kamu sebangku dengan nya, jadi bisa seenaknya ngomong atau ngecengin Arya. Kita cuma mau ngingetin kamu supaya nggak terlalu sok kecakepan.” Ucap si cewek menor.
Setelah mengucapkan ancamannya, mereka berdua berlalu sambil menubruk bahuku hingga aku terjatuh.
“Ren! Duh, kamu nggak apa-apa? Jahat banget sih mereka.” Ucap Erni yang baru aja turun dari angkot dan membantuku berdiri. Sedangkan Tuti yang turun dari angkot setelah Erni mengangkatkan tas ku yang ikutan jatuh.
“Siapa sih mereka?” tanyaku jengkel.
“Yang tinggi itu namanya Siti, kalo yang satunya Mala.” Jelas Erni.
“Yang dandanannya menor itu?” tanyaku memastikan kalo si cewek menor itu adalah Mala, soalnya dia yang sengaja nabrak aku sampe jatuh.
“Iya. Masa teman seangkatan aja nggak tau. Gaul dikit dong.” Ledek Tuti sambil memukul bahuku.
“Auw!” aku menjerit menahan sakit akibat pukulan ringan Tuti. “Teman habis kena tonjok malah ditambah.” Ujarku kesal.
“Hah! Emang kamu ditonjok tadi? Berani benar tuh orang.” Tuti mulai meledak.
“Eit! Tunggu dulu.” Aku mencaoba menahan Tuti yang mulai melipat lengan bajunya yang mulai bersiap untuk berperang. Emang sih dia agak tomboy, jadi ada sedikit sifat hero dalam dirinya. “Aku nggak ditonjok kok, cuma disenggol.” Tambahku lagi.
“Emang mereka siapa sih. Kok bisa tahu kalo Arya kemarin di rumah kamu?” tanya Tuti.
“Tau! Namanya aja baru tau sekarang.” Jawabku kesal.
“Sebenarnya sih mereka dari fans klub nya Arya. Siti tuh wakil ketuanya, sedangkan Mala jadi bendahara.” Jelas Erni.
“Hah! Emang Arya ada fans klub nya juga? Busyet! Hebat banget.” ucap Tuti penuh kekaguman dan keheranan.
“Makanya, gaul dikit dong.” Ucapku sambil memukul bahunya penuh kemenangan. Ledekannya tadi malah membalik ke dia. Tuti menanggapi dengan tampang cemberut plus tatapan paling seram yang dia miliki.
“Sudah, sudah skornya seri sekarang.” Erni segera melerai sebelum terjadi pertumpahan darah. “Ini pasti gara-gara si Helen. Dia kan yang jadi sekertarisnya fans klub Arya.” Sambungnya.
Aku dan Tuti berbalik menatap tajam ke arah Erni.
“Lho! Ada yang salah? Kok aku dipelototin sih?” Erni mulai telihat panik.
“Trus dari mana Helen tau kalo kemarin kita belajar kelompok?” tanyaku.
Erni nyengir mencoba meluluhkan amarah kami berdua. “Itu… dari… . Eh! udah bel tuh. Duluan ya?” ucapnnya setelah melihat wajah “no mercy” aku dan Tuti.
“Hey tunggu!” aku dan Tuti pun menyusul mengejarnya.
To be continued...

Novel | Wajah Kedua (Part 2)

Part 2
Belajar Kelompok Yang Menghebohkan


“Pagi Ren! Gimana renacana sore ini.” Sapa Erni, sobatku yang duduk di belakangku.
“Rencana apaan?” Tanya ku.
“Nggak usah berlagak blo’on deh. Enak banget ya jadi kamu, aku juga pingin belajar bareng sama Arya!” Erni memperlihatkan wajah cemberut plus ngirinya.
“Oh itu toh. Enak apaan, bakalan ngebosenin tau. Kamu sendiri tau kan gimana sifatnya. Jangan-jangan nanti cuma aku aja yang ngerjain tugas, trus dia hanya dengerin discmannya.” Keluh ku.
“Nggak mungkin dia secuek itu Ren.” Ucap Erni membela.
“Tapi…” aku segera menghentikan ucapanku karena orang yang lagi diomongin sudah nongol dari pintu kelas. Erni segera balik lagi ke bangkunya di belakang bersama Tuti.
Seperti biasanya, ini cowok nggak pake sapa-sapa kalo masuk. Langsung duduk dan melamun sampai ada guru datang. Tiba-tiba ada ide menarik terlintas dalam pikiranku.
“Umm. Arya!” Aku agak ragu-ragu menyapanya.

Novel | Wajah Kedua (Part 1)


Part 1
Arya Sang Idola


Arya Ozman. … Cewek mana sih di sekolah ini yang gak kenal nama itu. Bahkan nama itu dikenal di sekolah-sekolah lain. Dia seorang pemain basket yang berbakat yang berhasil mengantarkan sekolah ini menjadi semifinalis Propinsi yang sebelumnya hanya masuk delapan besar Kota.
Tingginya sih biasa-biasa saja, sekitar 170- an gitu. Tapi cewek-cewek seantero sekolah mengidolakannya seperti seorang artis saja. Dia pendiam, wajahnya selalu terlihat lesu, jago matematika dan fisika, gak bergaul, tatapan matanya kosong, gak pernah tersenyum (mungkin!) dan gak enak diajak ngomong. Begitulah pandangaku terhadap nya.
Lain lagi menurut cewek-cewek lain di sekolah ini, dia itu cowok cool dan jago basket. Dia adalah tipe cowok impian jika dibandingkan dengan cowok-cowok yang ada di sekolah ini. Cakep, cool, n jago basket. Tapi kekurangannya hanya tinggi aja sih.
Dia adalah cowok berdarah campuran Turki Melayu sehingga membuat statusnya sebagai cowok idola semakin sempurna. Kakek dari pihak Ayahnya adalah seorang berkebangsaan Turki dan menikah dengan wanita Padang, sedangkan ibunya adalah orang melayu asal Kuala Lumpur yang menjadi WNI setelah menikah dengan Ayah Arya.
Sudah setahun berlalu semenjak dia pindah ke sekolah ini saat semester awal baru dimulai dan berada di kelas 2 – 7. Kini telah duduk di kelas 3 IPA 2 dan sekelas denganku (surprise banget kan?). Tepatnya mulai dua minggu yang lalu. Yang lebih surprise lagi, kami sebangku hingga membuat sirik gerombolan cewek-cewek penggemarnya yang sangat sewot.

Jumat, 20 Januari 2012

Sahabat Untuk Selamanya part 2

Frisilia Stories

Aku terbangun dari tidurku. Kulihat suasana kamar Farah yang mulai cerah karena cahaya matahari yang mencoba masuk. Tampaknya aku yang terbangun lebih dulu karena aku tertidur duluan di saat Farah dan Windi menakut-nakuti Najma dengan cerita setannya. Aku pun membuka tirai jendela sehingga membuat ketiga sahabatku mulai membuka matanya.
“Hey bangun! Sudah pagi nih.” Ucapku.
“Hoahm! Dikit lagi, masih ngantuk nih.” Windi merengek lalu memeluk Najma yang kelihatannya masih pulas.
Farah beranjak dari tempat tidurnya lalu ke kamar mandi. “Oh ya Fris. Kalau kamu lapar/haus, ke dapur saja. Biasanya Bibi udah buat sesuatu di meja makan.” Ucapnya.
“Iya nyonya.” Ucapku setengah meledek. Kami berdua tertawa sejenak lalu Farah pun masuk ke kamar mandi.
“Ya ampun kalian ini! Gimana kalo kakaknya Farah datang dan melihat kalian?” ucapku.
Mata Najma pun terbuka dan melepaskan diri dari pelukan Windi. Tubuh Windi memang paling besar di antara kami berempat. Sedangkan yang paling kecil adalah aku.
Tiba-tiba aku merasa haus setelah membereskan kamar ini. Aku pun turun ke dapur sesuai dengan perintah nyonya Farah tadi.
Aku tersentak kaget melihat sosok yang berdiri di depanku. Kak Farhan? Apa aku masih bermimpi?
“Temannya Farah ya?” tanya Kak Farhan.
Aku tak menjawab, malah berlari naik menuju kamar.
“Najma! Windi! Farah! Oh my god!” ucapku setengah panik.
“Ada apa Fris?” tanya Najma.
“Aku ketemu Kak Farhan. Kenal kan sama Kak Farhan?” jelasku.
“Iya. Tapi kamu ketemunya dimana?” tanya Windi.
“Di dapur.” Jawabku.