Rabu, 08 Mei 2013

Novel | Wajah Kedua (Part 28)


Part 28
Cinta Adalah Keikhlasan


Cinta adalah keikhlasan. Yah, bukankah sebelumnya aku rela menjadi apapun bagi Arya? Tapi air mata ini mengapa tak mau berhenti? I need someone…
Tiba-tiba saja HPku berbunyi dan ternyata dari Arya. Oh My God, bukan kamu Ya yang ingin kuajak bicara malam ini. Tapi aku harus mengangkatnya.
“Assalamualaikum Ren!” sapa Arya.
“Walaikumsalam!” balasku.
“Lagi ngapain nih?” tanyanya.
“Lagi kencan sama Erwin.” Jawabku dengan nada agak judes.
“Oh, maaf yah mengganggu!” Arya pun tampak bernada judes.
“Memang mau bicara apa sih?” tanyaku.
“Gak ada! Udah dulu yah!”

Novel | Wajah Kedua (Part 27)


Part 27
Arya dan Gadis Melayu


Aku masih merasa jengkel karena ditinggal Erni. Sepertinya Erni dan Tuti sengaja mengerjai aku supaya bisa berduaan aja dengan Erwin. Rupanya mereka mau comblangin aku supaya balik lagi dengan Erwin. Dan Erwin pasti juga terlibat dalam persekongkolan ini. Pantasan Tuti jadi agak aneh sejak tadi. Awas yah kalian, Tuti dan Erni.
Sesampainya di salon, Kak Desi langsung duduk di kursi salon. Sementara itu Kak Ruslan dan Erwin menunggu di luar sambil bercerita. Aku diajak kak Desi tapi aku gak mood dan memang nggak pingin merubah penampilan.

Novel | Wajah Kedua (Part 26)


Part 26
Ada Apa Dengan Tuti?


Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku ini munafik juga. Udah nasehatin Erni untuk nggak pacaran tapi aku malah sering telpon-telponan bareng Arya. Sejak kencan pertama dengannya di café milik Kak Wina itu, aku semakin suka dengan Arya. Dan hampir setiap hari Arya selalu meneleponku. Menanyakan pelajaran atau sekedar guyon aja. Mama sampai terlihat curiga dengan kegiatanku mengurung diri di kamar. Sepertinya Mama udah mulai paham dan mengerti kalau anaknya yang cantik ini sedang jatuh cinta.

Novel | Wajah Kedua (Part 25)


Part 25
Senyuman Sang Pelangi


“PIIP!”
“AUCH!”
Aku jadi kaget karena bunyi klakson dan mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak. Jidatku dan dagu Arya saling bertubrukan karena klakson dari Mang Jana. Aku tertunduk malu dan berpura-pura kesakitan sambil menutup wajahku dengan tanganku. Sepertinya mukaku memerah.
“Duh, Sori Ren. Kamu gak apa-apa?” tanya Arya.
“Ia gak apa-apa kok Ya!” jawabku.
“Kenapa sih Mang?” Tanya Arya pada Mang Jana dengan kesal.