Kamis, 09 Mei 2013

Novel | Wajah Kedua (Part 32)


Part 32
Sahabat Yang Terlupakan


Aku duduk di sebuah bangku dipinggir lapangan basket. Sekolah tampak mulai sunyi tapi aku masih belum pulang. Kebetulan Ibu guru menyuruhku ikut merapikan perpustakaan. Pekerjaan ini sudah selesai tapi entah mengapa aku belum pulang.
“Loh Reni?”
Sebuah suara membuyarkan lamunanku. “Aldo?”
“Tumben nih kamu sendirian. Biasanya bareng Erni atau Tuti.” Ledeknya.
Aku mendesah menghela nafas panjang. “Sebenarnya kami lagi bertengkar.”

Novel | Wajah Kedua (Part 31)


Part 31
Selingkuh atau…?


Seharian ini aku mau menghabiskan waktuku bersama Erwin. Yah, beberapa hari ini rasa suka dan berharap pada Arya muncul lagi. Tapi aku nggak mau hal itu terjadi lagi. Aku akan memupuk kembali hubungan dengan Erwin agar semakin kuat.
Oh ya, aku juga agak kesal dengan hasil nilai ujian semester. Yah meskipun nilaiku naik, tapi peringkatku turun. Seperti yang sudah diprediksi, Said si jenius mendapatkan peringkat pertama. Dan peringkat kedua disusul oleh Windy, ketua kelas kami. Dan yang mengambil peringkat tigaku adalah Arya.

Novel | Wajah Kedua (part 30)


Part 30
Kejutan Dari Tanah Melayu


Hari ini hari pertama semester kedua dimulai. Sebuah sedan Honda City berwarna silver parkir di depan sekolah saat pulang sekolah. Sepertinya mobil itu menunggu seseorang.
Saat aku pulang sekolah, drama penculikanku pun dimulai. Seorang wanita menculikku dan memisahkanku dari teman-temanku. Aku pun di bawah masuk ke dalam mobil ini tanpa bisa berbuat apa-apa.
Alhasil kini aku terjebak di sebuah café yang dulu pernah aku kunjungi bersama Arya. Winz café, café milik kak Wina.

Rabu, 08 Mei 2013

Novel | Wajah Kedua (Part 29)


Part 29
Kecelakaan Sepeda Kedua


Sudah seminggu ini aku tak bicara dengan Arya. Libur telah tiba dan Arya pun tidak pernah lagi meneleponku. Dan Tuti pun sepertinya masih marah padaku. Dia tak menanggapiku sama sekali. Aku dicuekin habis-habisan sama dia. Padahal aku ingin berbagi kebahagiaanku dengannya. Aku ingin bilang terima kasih telah menghiburku dan membuatku tetap bertahan. Entah apa salahku padanya. Untung saja Erni masih bersikap biasa-biasa aja padaku.
Dulu Tuti pernah bilang, kesabaranku pasti akan terbalas dan dia selalu meyakinkanku kalo Erwin pasti akan kembali padaku. Sekarang saat Erwin sudah kembali padaku, dia malah cuek. Erni yang jadi perantara antara aku dan Tuti pun sudah cerita tentang hubunganku dengan Erwin. Dan Tuti Cuma bisa membalasnya dengan mengatakan “selamat yah!” dengan nada tanpa ekspresi.
Selama masa liburan ini aku mengisinya dengan belajar untuk persiapan Ujian Nasional nanti. Aku tidak mau masalahku ini membuatku jadi patah semangat dan kehilangan gairah belajar.