Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

Novel | Bintang, Bulan dan Matahari - Chapter 1


- 1 -
BOLA BASKET

“Sebuah pertemuan adalah sebuah takdir yang menambah warna kehidupan kita. Setiap pertemuan pasti manis namun ada juga sebuah pertemuan yang pahit. Yang terpenting bukan masalah pertemuan itu manis atau pahit. Yang terpenting adalah bagaimana kelanjutan dari sebuah pertemuan itu berbuah proses silaturahmi yang baik. Maka takdirmu pun akan tertulis bersama proses itu.”

***

Slam Dunk. Itu judul komik kesukaanku. Dari komik itulah aku mulai terpikat dengan permainan bola basket. Aku jadi terobsesi dengan permainan ini dan begitu serius menekuninya sejak kelas satu SMP dulu hingga kini kuliah.
Hari itu pertandingan Three On Three diadakan di Kampusku. Three On Three adalah sebuah pertandingan basket tiga orang melawan tiga orang dengan sistem setengah lapangan. Untuk mengikuti pertandingan ini, tiap Tim harus mendaftarkan sebanyak empat orang anggota Tim. Kebetulan teman ku kekurangan anggota karena mereka hanya bertiga.

Kamis, 09 Mei 2013

Novel | Bintang, Bulan dan Matahari - Prologue



PROLOGUE


Dahulu… Matahari adalah sebuah bintang. Dia berpetualang di angkasa sendirian. Semakin hari cahayanya mulai meredup karena dia selalu merasa sendirian di angkasa. Dia selalu merasa bahwa hanya dia bintang yang ada di galaksi.
Suatu hari Tuhan mempertemukannya dengan Bulan. Tapi karena bulan tidak memiliki cahaya sendiri, bintang itu memberikannya cahaya hingga bulan pun menjadi terang. Bintang pun senang karena dia punya teman di angkasa.
Bintang menyukai Bulan, namun dia sadar bahwa Bulan adalah sosok batu besar yang tidak memiliki cahaya. Bila tak disinari oleh Bintang, Bulan pasti akan redup dan mati. Bintang pun menjadi sedih. Bintang ingin cahaya lain ada untuknya dan bersama-sama menerangi seluruh alam.
Namun bintang pun tak putus asa dia terus memancarkan sinarnya hingga terang benderang. Dia tetap tersenyum meskipun dia sendirian. Akhirnya dari kejauhan muncul titik-titik cahaya kecil yang kerlap-kerlip merespon cahaya sang bintang.
Ternyata cahaya kecil itu pun adalah bintang lain. Dia memiliki cahayanya sendiri. Akhirnya matahari pun sadar bahwa dia tak sendiri. Ada banyak bintang lain jauh di ujung angkasa sana. Sang matahari pun terus memancarkan sinarnya dan berharap suatu saat bisa bertemu dengan salah satu bintang yang ada disana…

Senin, 07 Maret 2011

Cerpen | Dixie

Dixie

Saat itu aku baru saja selesai dari klinik THT di sebuah rumah sakit di pinggiran kota. Aku menelusuri lorong-lorong panjang rumah sakit sambil memperhatikan suasana. Wajah-wajah pasien lain yang menghuni rumah sakit ini karena penyakit mereka, juga para perawat dan dokter. Karena besok akupun akan menjadi bagian dari mereka. Dokter menyarankanku untuk dirawat di rumah sakit akibat sinusitis yang kuderita. Suaraku parau bahkan hampir lenyap saat berbicara panjang.
Aku pun kembali ke kantor dan meminta cuti selama seminggu untuk berobat. Mereka mengerti kondisiku dan memberiku izin. Sebenarnya hanya butuh 4 hari masa pengobatan dan penyembuhan. Namun aku memikirkan kemungkinan terburuk, makanya aku mengambil cuti lebih panjang.
Hari operasi pun tiba, mereka akan menyedot isi lendir di hidungku yang mengental dan mengeras. Ini yang selalu kukeluhkan. Flu berkepanjangan namun lendir di dalam tak mau keluar. Sungguh menyiksa dan mengganggu pekerjaanku.
***
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Aku terbangun dari mimpi hampaku dan mencoba mengenali diriku. Syukurlah sepertinya aku masih hidup dan hidungku juga tidak apa-apa. Operasi sore kemarin sukses dan aku tertidur hingga hari ini, tepat pukul 10 pagi. Yang aku tahu, hidungku terasa kosong dan ringan.
Seorang suster datang dan memberitahukan bahwa waktunya minum obat. Empat jenis obat? Banyak sekali? Aku tak pernah meminum obat sebanyak itu dalam sekali dosis. Ditambah lagi injeksi jarum suntik yang bikin lenganku nyut-nytut. Badanku masih lemah untuk protes apalagi berontak.
Saat itu aku mulai memperhatikan sekelilingku. Aku berada di sebuah bangsal rumah sakit. Di dalam sini ada 4 ranjang dan dipisahkan oleh tirai-tirai berwarna hijau. Di sebelahku ada seorang gadis kecil, umurnya sekitar 8 tahun. Di dekat jendela, seorang wanita mungkin umurnya sekitar 40an. Dan di ranjang satunya lagi tak berpenghuni.
Sore ini, aku sudah mulai bergerak bebas tanpa merasakan nyeri. Selang-selang infus pun sudah dicabut. Lega rasanya diriku ini. Akupun berjalan-jalan menikmati udara sore hari. Kebetulan tadi siang hujan dan aku suka suasana sehabis hujan.
Gedung demi gedung, lantai demi lantai telah kulalui. Akupun berhenti sejenak di beranda lantai 3 sambil menunggu matahari terbenam. Kebetulan beranda ini menghadap ke barat. Di sudut beranda, kulihat gadis kecil tadi. Dia pun memandangi langit sepertiku. Dia duduk dikursi roda dan di belakangnya ada suster yang menjaganya. Namun sang suster hanya menelepon sambil duduk di kursi panjang itu.
“Hei! Selamat sore!” sapaku, meskipun suaraku masih agak serak.
Gadis cilik itu menatapku dengan tatapan kosong tanpa ekspresi. Sementara sang suster hanya tersenyum padaku, lalu melanjutkan perbincangannya di telepon.
“Oh ya, namaku Alam. Kita bersebelahan ranjang kan?” tanyaku memastikan.
Dia kembali menatapku dengan tatapan kosong sehingga membuatku agak merinding. Namun beberapa saat dia mengangguk mengiyakan pertanyaanku.
“Lihat matahari terbenam ya? Paling asyik kalo dinikmati bersama-sama. Boleh aku duduk di sini suster?” pintaku pada suster.
“Mari silahkan!” ucap sang suster.
Aku mencondongkan badanku ke depan agar sejajar dengan gadis cilik itu. Dia masih terpaku menatap matahari yang mulai tenggelam diujung cakrawala. Aku hanya tersenyum kecil padanya yang menatapku dengan wajah polos dan bingungnya.
“Wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Dia mungil sepertimu, dia berambut ikal dan agak kecoklatan sepertimu. Kulitnya putih pucat sepertimu. Tapi dia sudah pergi…” aku menggantung kata-kataku.
Wajah gadis cilik itu menoleh padaku dengan tatapan heran. Sepertinya dia menikmati ceritaku. Dan penasaran ingin mendengar lanjutan ceritaku.
“Dia tidak meninggal. Hahahaha. Kamu pikir begitu ya.” Ucapku.
Sebuah senyuman terukir diwajahnya. Mungkin dia ingin berkata, “Syukurlah”.
“hehehehe! Sebuah senyuman bisa mempercepat kesembuhan kita loh!” ucapku.
Kali ini wajahnya terlihat lebih berekspresi. Dan memandangku dengan senyuman tulus.
“Nama kamu siapa?” tanyaku pada gadis cilik.
“Pita suaranya… putus saat operasi amandel. Dia tidak dapat berbicara lagi.” Jelas suster.
Aku terhentak sesaat, kulihat kembali wajah gadis cilik itu. Ia tertunduk lesu, kembali lagi ke ekspresinya semula. Ekspresi penuh kekosongan. Aku tak punya kata-kata selain maaf. Dan matahari terbenam menjadi saksi perjumpaan kami.
Malamnya aku harus merasakan makanan yang sama yang kumakan tadi pagi dan siang.
“Suster! Kok menunya sama sih? Tadi pagi trus siangnya juga begitu. Apa ini makanan sisa tadi pagi ya? Kok bubur sih? Trus Ibu         Yuni bisa makan sate kenapa saya tidak?” protesku.
Sang suster hanya menatap dengan pelototan kepadaku. “Kamu kan baru selesai operasi. Makan bubur dulu.” Ucap sang suster sewot.
“Iya!” ucapku pasrah. Ini sih bukan makanan. Bubur berwarna kuning yang entah terbuat dari apa. Rasanya pun hambar.
Sementara itu di sampingku si gadis cilik itu tersenyum kecil melihat pertengkaran kecil kami. Dia pun memakan makanan yang sama denganku namun tak protes apa-apa. Aku belum tahu namanya sedangkan pasien yang satunya lagi bernama Ibu Yuni. Aku tertarik dengan bungkus obat yang diminum gadis cilik itu. Terpampang tulisan Dixtren bla bla bla. Tulisan itu gak jelas bacanya.
“Gak minum dixiemu?” tanyaku sambil menunjukk obat itu.
Gadis cilik itu hanya menggeleng. Sepertinya dia tak ingin minum obat itu. Mungkin rasanya sangat pahit. Akupun menanyakan hal itu padanya dan dijawabnya dengan anggukan.
Malam itu kami bertiga penghuni bangsal THT saling mengakrabkan diri. Besok Ibu Yuni akan pulang dan meninggalkan aku dan gadis kecil itu yang kupanggil Dixie. Aku masih 3 hari lagi disini hingga dokter mengijinkanku pulang. Tapi aku tak tahan berlama-lama disini, aku tidak terbiasa dengan suasana rumah sakit apalagi makanannya. Hoeeek! Kalo besok makanannya masih bubur tawar, sy kabur dari rumah sakit saja deh.
Akhirnya esok pun tiba dan Ibu Yuni pun pamit meninggalkan kami. Siang itu, teman-teman dan familiku datang menjenguk. Aku bisa makan makanan enak sepuasnya. Mereka membawakanku apel, anggur, kue-kue, air dan juga majalah untuk mengusir suntuk dan kebosanan.
Sorenya, aku dan dixie berjalan-jalan mengitari rumah sakit. Aku mendorong kursi rodanya sambil bercerita untuk menghilangkan kebosanannya. Dia hanya tersenyum mendengarku. Seandainya suaranya tidak hilang, ingin rasanya mendengarnya menyanyi. Dia hobinya nyanyi, aku tahu dari suster yang menjaganya. Ayahnya saat ini sedang ditahan karena dugaan korupsi. Makany aku tak pernah melihat orang-orang menjenguknya. Dia hanya tinggal dengan ayahnya, namun 1 bulan yang lalu dia mengalami peradangan dan harus segera dioperasi. Seminggu kemudian ayahnya ditahan dan dibawa ke Jakarta untuk persidangan. Makanya ia dititipkan sampai masalah selesai. Sebenarnya Dixie punya perawat pribadi yang merawatnya di rumahnya. Namun si suster libur setiap hari jumat, jadi hari ini saya yang ngajak Dixie jalan-jalan sampai matahari terbenam.
Malam ini kami tidur berdua saja, eh kalian jangan berpikir macam-macam loh. Aku bukan tipe-tipe lolicon. Lagipula tempat tidur kami terpisah, dan suster penjaga slalu lewat tiap saat. Apalagi suster yang biasa kami sebut Mami Icha. Makanan yang dibawa buatku diembat semuanya. Hanya tersisa beberapa potong apel saja.
***
Aku terbangun jam 3 subuh untuk ke toilet. Saat aku kembali dari toilet, aku mendengar suara isak tangis. Aku sampai merinding mendengar desahan napas tak beraturan itu. Namun aku kesampingkan rasa takutku dan memperhatikan sekelilingku.
Dixie? Bahunya bergetar dan sumber suara desahan itu dari arahnya. Aku melihat air matanya mengalir hingga membuat bantalnya basah. Dia belum tidur? Apa yang ditangisinya.
“Dixie? Kamu kenapa?” tanyaku sambil memegang bahunya yang bergetar.
Dia membalikkan badannya, menatapku sekilas dengan linangan air matanya. Kemudian memelukku dan menangis di bahuku. Aku mengelus pundaknya mencoba menenangkannya.
Setelah ia tenang, aku mengambil HPku lalu menyuruhnya menjelaskan apa yang membuatnya sedih. Ia pun mulai mengetik kata-kata menggantikan suaranya. Wajahnya serius mencari huruf-huruf pada keypad QWERTY di HPku. Meskipun baru 8 tahun, dia sudah mahir menggunakan HP. Cukup lama aku menunggu kata-katanya, akhirnya selesai juga dia mengetik.
“Aku rindu Papa. Kenapa sebulan ini papa tidak menjengukku?” ucap Dixie lewat HP.
“Hmm! Dixie tau nomor telepon Papa? Tulis disitu, nanti kakak telponkan.” Tanyaku dan dibalas dengan sebuah gelengan kepala.
Dia kembali mengambil HPku. “Aku tidak hapal nomornya. Dan namaku Veronika Kak!” begitulah kata-kata yng terpampang di layar HPku.
“Hahaha! Maaf panggil kamu Dixie. Itu kan nama obat. Eh, orang yang kakak ceritakan dan mirip denganmu Inisialnya juga’ V’ loh! Akhirannya juga ‘ka’. Mau tahu…….?” Aku menghentikan ucapanku karena Dixie sudah terlelap.
Dalam hati aku pun merasa kasihan padanya. Dia pasti kesepian di sini tanpa seorang pun menengok atau menghiburnya selama ini. Apalagi besok lusa aku pun keluar jika dokter mengijinkan.
***
Pagi yang sungguh membosankan di rumah sakit. Namun aku dapat berita gembira bahwa selaput lendir hidungku sudah normal. Selanjutnya tinggal pemulihan dan besok boleh pulang. Berarti aku pulang lebih cepat dari prediksi dokter. Dan aku pun harus meninggalkan Dixie sendiri di ruangan itu.
Akhirnya pagi itu aku nekat kabur dari rumah sakit, setelah itu pulang ke rumah dan beraksi dengan motorku di jalan. Tujuan pertama ku adalah warnet untuk mencari informasi mengenai Ayah Dixie. Aku mengakses rekeningnya dan menelusuri sms dan emailnya. Kebetulan aku pernah belajar sedikit tentang Hacking. Ternyata benar, ia telah korupsi di PT X pada tahun ini. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Satu-satunya jalan adalah mencari keluarga Dixie lewat kartu Ayahnya. Sepertinya nomor HP orang itu di blokir. Terpaksa aku harus mengaktifkan lagi dari operator. Hari sabtu ini mereka buka hingga pukul 12, oleh sebab itu aku harus bergegas.
Aku ke tempat fotokopi dan menemukan murid-muridku sedang fotokopi tugas sejarah mereka. Akhirnya ketahuan kalau aku sudah keluar dari rumah sakit. Jadi sebentar siang harus ke sekolah mengajar lagi. Tapi aku harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu.
***
Aku kembali ke rumah sakit dengan disambut omelan dari Mami Icha. Dixie hanya tersenyum memandangku yang tertunduk lesu. Setelah puas mengomel, sang suster pun berlalu. Aku membawa hadiah untuk Dixie, sebuah whiteboard kecil dan spidol untuk berkomunikasi. Dia terlihat gembira dengan hadiah itu.
“Terima kasih Kak!” ia langsung menulis kata pertamanya di situ.
Aku tersenyum memandangnya. Malam ini, merupakan malam terakhir aku disini. Entah apa yang terjadi padanya, apakah dia akan bertahan sendiri disini?
“Kakak tidak keluar malam minggu?” Dixie memperlihatkan tulisan di papannya.
“Tidak. Kakak tidak punya pacar. Lagian Mami Icha nanti marah loh!” jelasku. Aku jadi malu harus mengakui hal itu padanya. “Tapi tidak apa-apa kok. Malam ini kan ada Veronika yang nemani.” Gombalku.
“Kakak boleh panggil aku Dixie.” Dixie memamerkan papannya sambil tersenyum. Dia kemudian menghapus kembali tulisan di papannya itu. “Tapi Mama Ica baik koq. Iya, Dixie senang bisa temani kakak.” Ia kembali menunjukkan papan itu dengan seyuman polosnya.
“Hahaha! Justru Kakak yang senang malam minggu ini ditemani cewek imut dan cantik seperti Dixie. Mami Icha baiknya sama Dixie saja. Kalo sama pasien lain, dia suka marah-marahin. Habis dimarahin, makanan kita disikat lagi.” Ucapku yang disambut dengan tawanya yang tak bersuara.
Kami terdiam dengan kesibukan masing-masing. Dixie sibuk menggambar di papannya sambil sesekali memamerkannya padaku. Sedangkan aku sibuk menerima SMS dari murid-muridku.
“Kak! SMS dari siapa? Kelihatannya senang?” tanya Dixie melalui papan pesannya.
“Oh. Ini dari orang yang mirip sama kamu. Yang pernah Kakak ceritakan waktu itu. Hehehehe! Namanya juga mirip koq. V dengan akhiran ka. Akhirnya dia balas SMS Kakak. Soalnya beberapa hari ini dia tidak pernah balas SMS Kakak. Dia sudah sampai di Manado. Dixie mau lihat SMSnya?”
Dia mengiyakan dengan sebuah anggukan. Aku pun menghampiri ranjangnya lalu memperlihatkan isi pesan itu.
Slmt malam..
K’alam..
Bgamana keadaan kelz Tnpa kt?..
Aku pun memperlihatkan fotonya pada Dixie hingga membuatnya keheranan. Wajahnya memang agak mirip, apalagi rambutnya.
“Kak! Dixie ingin menyanyi. Dixie suka menyanyi.” Dia menunjukkan tulisan baru lagi pada papannya.
“Oh ya? Kalau Kakak sih suka main piano. Hmm! Kakak pingin dengar suara Dixie yang merdu itu. Dixie mau nyanyi lagu apa?” tanyaku.
“DMasiv. Jangan menyerah” papan putih itu kembali tercoreti.
“Hehehehe! Iya, Kakak mau dengar lagu itu.” Ucapku. Kebetulan lagu itu ada di HPku. Akupun memutarkannya supaya dia bisa mengikutinya. Sebuah lagu tentang semangat tuk jalani hidup meski dalam ketidaksempurnaan.
Bibir mungilnya mulai mengikuti lirik lagu namun suaranya tak terdengar. Tapi dia terlihat sangat menikmatinya. Aku menutup mataku dan membayangkan suaranya menggema di telingaku. Baru setengah lagu berlalu, pintu kamar telah terbuka dan munculah Mami Icha.
“Hey! Cepat tidur. Sekarang sudah jam 10. Pasien lain sedang istirahat.” Tegur Mami Icha.
Aku pun segera bergegas ke ranjangku dan Dixie pun menutupi wajahnya dengan selimutnya. Mungkin dia tidak ingin melihat wajah Mami Icha sebelum tidur, supaya tidak mimpi buruk.
***
Hari ini aku kan meninggalkan rumah sakit. Sedih rasanya meninggalkan Dixie. Ia memeluk punggungku mencoba menahanku untuk tidak pergi. Namun tubuh mungilnya tak dapat mengimbangi kekuatankku. Aku menoleh padanya sambil berkata “Aku nanti jenguk.”
Dia menatapku dengan tatapan sedih, dia berbicara namun tak keluar suara apa-apa. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu yang lebih pantas diucapkan dengan lisan.
Aku pun berlalu meninggalkannya. Seharusnya aku keluar dari rumah sakit besok sih, namun  aku bersyukur pulang hari ini. Aku bisa main basket sebentar sore dan menghindari murid-muridku yang akan menjengukku hari ini. Untung saja mereka tidak jadi datang dan melihat Dixie. Kira-kira apa yang akan mereka bilang bila melihat Dixie? Soalnya Dixie mirip sekali dengan sahabat mereka yang baru saja pindah sekolah.
***
Hampir tiap hari aku menemui Dixie. Aku selalu membawakannya Es Krim, dan tidak lupa Es krim cadangan untuk Mami Icah kalau dia lagi sewot. Biasanya sebelum mengajar siang, aku menemuinya terlebih dahulu. Kami bercerita banyak hal meski lewat sebuah papan.
Sudah 3 minggu berlalu dan minggu ini, aku mulai sibuk dengan berbagai laporan dan ketikan sehingga lupa menjenguk Dixie. Hampir seminggu aku tidak menjenguknya. Aku jadi tak enak hati padanya karena tiba-tiba menghilang darinya.
Akhirnya kuputuskan untuk menjenguknya hari ini. Aku membawa 2 buah es krim seperti biasanya. Namun hari ini suasana ruangan kosong, mungkin dia sedang berjalan-jalan. Akupun mengelilingi rumah sakit untuk mencarinya. Pencarianku terhenti setelah melihat Mami Icha, akupun menanyakan tentang Dixie.
Aku sungguh terkejut mendengar jawaban itu. Dixie si gadis cilik berkepang itu telah meninggalkan rumah sakit. Ada keluarganya dari Surabaya datang menjemputnya. Dokter pun menyetujuinya karena disana dia bisa memulihkan pita suaranya dan dapat berbicara lagi. Dua hari yang lalu mereka berangkat dengan pesawat ke Surabaya. Sebelum berangkat dia menulis surat padaku. Akupun membacanya.
Kakak! Maaf Dixie pergi tidak pamit.
Terima kasih ya sudah temanin Dixie selama di rumah sakit. Dixie mau ke surabaya sama Paman. Katanya kalo disini Dixie bisa sembuh. Kalo Dixie sudah sembuh, Dixie mau menyanyi buat Kakak. Kakak dengerin suara Dixie ya?
Paman bilang nama Dixie bagus. Kalo sudah masuk sekolah lagi, Dixie mau dipanggil Dixie saja sama teman-teman. Papannya Dixie bawa. Doain Dixie supaya sembuh ya?
Dixie sayang Kakak!

Setelah membaca surat itu… aku bersyukur hujan turun. Sehingga bisa menyembunyikan air mataku yang menetes. Dixie adikku sayang… Iya, Kakak ingin dengar suara Dixie. Makanya, Dixie harus sembuh dan percaya bahwa Dixie bisa sembuh. Kakak akan selalu menunggumu di sini, sampai Dixie datang dan meneriakkan nama Kakak dengan suaramu yang indah.
TAMAT
Alamz

Cerpen | Muslimah Dalam Dilema

Muslimah Dalam Dilema

Aku terbangun dari tidur ku karena rintihan kesakitan adikku. Wajahnya pucat dan berkeringat serta terlihat sangat gelisah. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 2 tengah malam.
“Kamu kenapa dek?” Tanya ku.
“Sepertinya sakau lagi. Kak! Tolong...” ucapnya sambil menahan rintihannya.
 “Istighfar dek. Ingat Allah. Jangan lemah dan takut.” Ucapku.
Aku mengambil wudhu dan membaca Al Quran. Adikku pun terbaring dan terlihat agak tenang setelah mendengarkan Al Quran. Aku membacakannya surah An Nur sambil berharap Allah akan meneranginya dengan cahaya. Dan akhirnya dia pun terlelap.
Seminggu yang lalu adikku yang masih duduk di kelas 2 SMA diusir dari rumah oleh Papa. Dia telah terjerat dalam dunia hitam yang gelap. Dia memakai narkoba sejak kelas satu dan dia pun hamil. Entah siapa yang harus bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku tak ada di rumah untuk mengawasi dan memperhatikannya. Sejak ibu bercerai dengan Papa, Adikku menjadi begitu.
Aku tinggal di sebuah tempat kos wanita di dekat kampusku di Malang. Sedangkan adikku diusir dari rumah Papa di Bontang, Kalimantan Timur. Dia ke tempatku sendirian dengan berbekal beberapa potong baju dan uang yang tak seberapa banyaknya. Dan akupun tak tega bila harus mengusirnya.
Aku berjanji pada Allah, akan kubimbing dan kujadikan dia seorang muslimah sejati. Aku akan mengajarkannya untuk kembali ke jalan Allah dan mengeluarkannya dari dunia hitamnya. Semoga Allah merhidoi niat tulusku ini.
“Kakak ke kampus dulu ya. Tidak lama kok.” Ucapku.
Dia hanya mengangguk dan wajahnya masih murung.
“Assalamualaikum!” ucapku lalu pergi.
***
Di kampus, aku dipanggil oleh dosenku. Diantara mahasiswa lain, hanya aku saja yang belum membayar uang studi tur dan kegiatan ini wajib diikuti. Ini memang akhir bulan sehingga uang sakuku mulai menipis. Apalagi sejak ada adikku, pengeluaranku jadi berlipat. Biasanya Papa mengirim uang sebelum tanggal 1. Tapi sepertinya dia kesal karena aku merawat adik sehingga Papa tidak mengirim uang sama sekali. Ibu bekerja di Kuwait sebagai TKI dan kami kehilangan kontak.
Aku bingung dan gelisah. Hanya pada Allah aku berpasrah dan biarlah dia membukakan jalan keluar bagiku. Skripsiku pun tak diterima untuk ke sekian kalinya oleh Dekan ku. Aku merasa frustasi, untung saja imanku kuat sehingga aku tidak berakhir seperti adikku.
Akupun pulang ke tempat kos. Dan aku kaget adikku tidak ada di rumah. Apakah dia kabur lagi? Ataukah dia berniat bunuh diri seperti kemarin-kemarin. Pikiranku kacau dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ya Allah, semoga adikku baik-baik saja.
Aku bertanya pada teman di sebelah kamarku. Katanya dia pamit sejak siang untuk cari angin karena bosan dan akan kembali sore ini. Hatiku agak tentram mendengarnya. Meskipun agak gelisah karena hari sudah sore.
Tepat saat azan magrib berkumandang, adikku pulang kembali ke tempat kos. Aku lega dia tidak mencoba bunuh diri lagi.
“Darimana saja Dek?” tanyaku.
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celana jeansnya yang ketat. Uang sebanyak lima ratus ribu dan diperlihatkannya kepadaku.
“Darimana kamu dapat uang itu Dek?” tanyaku dengan perasaan cemas.
“Aku tidak mencuri kok. Ini hasil kerja ku. Aku tahu kakak kesulitan uang dan Papa tidak mengirim uang untuk Kakak karena ada Aku disini.” Jelasnya.
“Terima kasih Dek. Tapi kakak mau tau kamu kerja apa sampai bisa dapat uang itu dalam sehari. Jujur sama kakak!” pintaku.
Dia terdiam cukup lama seakan-akan takut untuk mengatakannya. Tiba-tiba air matanya jatuh dan diapun mulai berbicara. “Aku menjual diri. Aku melacur. Maaf kak!” ucapnya sambil berderai air mata.
“ASTAGFIRULLAH! DEK!” aku emosi dan ingin menamparnya namun tanganku berhenti sendiri. “Sudahlah, jangan kamu ulangi lagi. Kakak tidak bisa menerima uang ini. Lebih baik kamu mandi saja...” aku menggantung kata-kataku karena air mataku pun menetes. Ingin rasanya berteriak namun tak enak hati sama tetangga, apalagi ini sudah magrib.
Dia menangis dan memegang kakiku. “Maaf Kak! Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Maaf ya kak!”
Aku juga menangis dan hanya beristigfar dalam hati. Ya Allah, semoga hamba kuat dengan cobaan ini. “Berjanjilah kamu tidak akan begitu lagi dek!”
“Iya Kak. Aku janji! Kakak terimalah uang ini. Untuk biaya kuliah Kakak!” desaknya.
“Kakak terima uang ini. Tapi tidak akan kakak gunakan. Karena ini uang haram dek. Kita bisa kena celaka bila menggunakannya.” Ucapku.
“Iya...” ucapnya dengan nada kecewa.
***
Seminggu telah berlalu setelah kejadian itu. Uang itu pun aku sumbangkan ke panti asuhan karena aku tak tahan menyimpan uang haram itu lama-lama. Meski hati masih penuh gejolak karena masalah itu, namun aku bersyukur kini Adikku sudah memiliki kegiatan. Dia bekerja sebagai pelayan di rumah makan milik Ummi Idha. Beliau sudah aku anggap sebagai ibu sendiri karena sering membantuku dan menjadi teman curhatku. Dia pun menganggapku dan adikku sebagai anak sendiri. Selama dua belas tahun menikah dia belum mempunyai seorang anak. Saat pertama hamil dulu, janinnya mengalami komplikasi dan harus mengalami operasi serius sehingga Ummi Idha tidak akan pernah bisa hamil lagi.
Kebetulan Ummi Idha tinggal dekat tempat kos dan mau menerima Adikku sebagai karyawannya. Dulu aku pun sempat menjadi pelayan di sana namun tahun lalu aku berhenti karena harus serius dengan skripsiku.
Untuk menambah penghasilan, biasanya aku menulis cerpen untuk tabloid islami dan mendapatkan honor meski sedikit. Kadang aku menggantikan temanku menjaga warnet saat malam hari bila dia berhalangan.
“Kak!” sapa adikku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku ingin seperti kakak.” Ucapnya.
“Ingin kuliah ya? Sayang kamu putus sekolah dek. Memang mau jadi apa?”  tanyaku.
“Bukan itu. Aku ingin pakai jilbab seperti kakak.” Ucapnya.
Subhanallah! walhamdulillah! Sudah lama aku ingin mendengar ucapan ini adikku. Aku bersyukur pada Allah karena kini Adikku sudah mulai berubah dengan inisiatifnya sendiri. Aku tersenyum sambil memandangnya.
Sore itu aku dan dia pergi berbelanja di toko busana muslimah. Kami mencari jilbab yang cocok dipakai olehnya, sebab jilbabku besar-besar karena aku lebih gemuk darinya. Ternyata dia terlihat lebih cantik daripada tidak memakai jilbab.
Kamipun pulang ke tempat kos setelah membeli beberapa jilbab.
“Kak! Rasanya nyaman sekali. Rasa malu saya semakin berkurang karena laki-laki tidak lagi menatapku dengan penuh nafsu.” Ucapnya.
“Syukurlah dek! Alhamdulillah kakak senang kamu mau berjilbab tanpa dipaksakan.” Ucapku.
***
Sudah empat bulan berlalu dan tanda-tanda kehamilannya mulai nampak. Dia jadi sering mual dan perutnya mulai membesar. Dan itu sangat menganggu pekerjaannya di rumah makan Ummi Idha. Sebagai seorang kakak, saya harus merawatnya namun saya juga harus konsentrasi dengan ujian skripsiku.
Selama empat bulan ini, aku senang dia sudah mulai berubah. Awalnya berjilbab, mulai rajin sholat dan ikut pengajian. Aku bangga dengan adikku. Meski Papa masih belum memaafkannya namun aku berharap Papa dapat melihat perubahan ini. Aku bersyukur Papa masih mengirimkan kami uang setiap bulannya, meski sebenarnya uang itu ditujukan buatku.
Adikku pun bingung dan depresi. Dia takut bayi ini lahir tanpa ayah. Tak ada yang mau bertanggung jawab atau berbaik hati menikahi adikku ini. Di sini gosip mudah menyebar dan kehamilan adikku diluar nikah sudah menjadi perbincangan orang-orang kompleks.
Saat dia berjalan orang-orang menatapnya dengan sinis bahkan ada yang memaki. Namun adikku masih bisa bersabar dan kuat menghadapi semua ujian itu. Meski kadang saat sholat malam dia terlihat menangis dan mengadu kepada Allah.
Ya Allah semoga adikku bisa kuat dan tabah. Jangan menyerah adikku.
Saat ini aku bingung dengan biaya persalinan adikku dan biaya kuliahku. Aku tak tega minta lagi di Papa karena Papa juga sedang sakit-sakitan di sana. Aku pun bekerja lagi sebagai pelayan di rumah makan Ummi Idha menggantikan adikku. Saat malam, aku membuat cerpen untuk diterbitkan di tabloid.
Alhamdulillah untuk biaya persalinan adik, Ummi Idha mau menanggungnya. Dan kami bisa menyicilnya jika sudah punya uang.
***
Tiga bulan telah berlalu dan usia kandungan adikku sudah 9 bulan. Dia sudah cuti dari kerjaannya sejak sebulan lalu. Kami pun mendapatkan berita duka dari Bontang. Papa meninggal dunia dan kami tak punya uang tiket untuk ke sana. Kami hanya mampu membeli 1 tiket pesawat saja dan akulah yang berangkat ke Bontang. Sedangkan adikku aku titipkan di Ummi Idha.
Aku sedih melihat Papa untuk terakhir kalinya. Namun aku mesti tegar menjalani hidup ini. Di acara pemakaman papa, Mama pun tidak datang. Aku amat rindu padanya Mama yang sudah 2 tahun lebih meninggalkan kami.
Aku di bontang selama 2 hari dan kembali lagi ke Malang. Aku harus mempersiapkan ujian skripsiku besok lusa. Semoga aku bisa lulus dan membanggakan Papa yang sudah berada di alam sana. Aku pun harus menemani adikku dan memberi motivasi kepadanya. Di saat seperti ini dia harus berpikir positif dan tidak sedih karena sedikit lagi dia akan melahirkan.
Adikku menangis sepanjang malam. Dia menyesal karena sebelum Papa meninggal dia belum sempat meminta maaf dan dimaafkan. Aku takut kondisinya akan parah dan berpengaruh pada janin yang dikandungnya.
Dua hari kemudian aku harus menempuh ujian skripsiku. Tak kusangka hari ini adikku pun akan melahirkan. Aku mengantarnya ke rumah sakit pagi ini. Aku akan ujian jam 10 sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 9:30. Aku bingung mau memilih yang mana.
Antara adikku atau ujian akhirku. Aku pun memilih menemani adikku dan memberi dukungan moril padanya.
“Kak! Pergi saja. Aku tidak apa-apa.” Ucap adikku.
“Tapi, tidak ada yang menemanimu.” Ucapku.
“Ugh! Nggak apa-apa kok!” ucapnya.
“Biar saya saja yang temani.” Suara Ummi Idha membuatku kaget.
Syukurlah ada yang menemani adikku. Aku bisa pergi ujian dengan tenang. “Dek! Jangan menyerah ya? Allah bersama orang sabar. Kakak juga akan berusaha di sana.” Ucapku lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
***
Sekitar satu jam aku bertarung dengan pertanyaan dari para penguji. Aku pun selesai dan bergegas ke rumah sakit. Di sana terlihat Ummi Idha  duduk tertunduk sedih. Ya Allah, apakah gerangan terjadi?
“Ada apa? Bagaimana adikku dan bayinya?” tanyaku.
“Bayinya selamat tapi adikmu...” Ummi Idha tidak melanjutkan kata-katanya namun aku tahu sesuatu pasti terjadi pada adikku.
Aku segera menemui dokter dan ke ruang persalinan. Adikku telah berjuang dan bertarung dengan baik. Ia bertarung dengan gigih hingga titik darah penghabisan demi kehidupan baru. Kehidupan baru yang diberikan pada sang bayi.
Ia telah menghembuskan nafas terakhirnya setelah lelah dalam pertarungan itu. Innalillahi wa innalillahi rojiun. Aku pun meneteskan air mataku.
Ya Allah! Mengapa aku harus menghadapi semua cobaan ini. Aku baru saja kehilangan ayah, sekarang aku pun kehilangan adikku satu-satunya. Semoga engkau menerimanya di sisimu. Tempatkanlah ia ditempat yang penuh cahaya, yaitu surgamu ya Allah!
“Sabarlah! Dia meninggal saat melahirkan. Itu tergolong mati syahid dan dia sudah pasti dijamin masuk surga.” Nasehat Ummi Idha.
Aku menangis dalam pelukannya. Sungguh aku tak tahan lagi dengan berbagai kesedihan yang datang padaku secara bertubi-tubi. Jika imanku lemah, pastilah aku sudah bertindak bodoh dan bunuh diri.
“Allah memberikan cobaan pada hambanya karena Allah tahu dia dapat melaluinya. Saat cobaan itu usai, kamu pasti akan mendapatkan kenikmatan dari Allah. Bersabarlah nak!”
Ucapan Ummi Idha membuatku tenang. “Dimana bayinya?” tanyaku.
Ummi idha pun menuntunku ke sebuah ruangan dan disanalah sang bayi tertidur damai setelah keluar dari alam rahim. Seorang bayi laki-laki yang sangat lucu. Semoga engkau menjadi anak soleh dan berbakti.
“Ummi Idha? Aku berikan anak ini untuk Ummi. Ikhlas dan ridho karena Allah. Selama ini Ummi belum pernah punya anak. Namun Ummi Idha adalah ibu yang paling baik bagiku. Semoga dia bisa menjadi anak yang berbakti.” Ucapku.
Ummi Idha meneteskan air mata bahagianya. Kami berdua sama-sama menangis haru. “Terima Kasih. Ummi akan membesarkannya dengan kasih sayang.” Ucapnya.
Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." (QS Ali Imran 38)
Ummi Idha jadi teringat ayat yang selalu menjadi doanya selama ini. Allah kini mengabulkan doanya dan dia pun bersyukur atas karunia Nya.
Setiap manusia yang benyawa pasti akan diberikan cobaan hidup. Tak perduli sesulit apapun cobaan yang kita hadapi, ingatlah selalu kepada Allah. Karena Bagi Allah, cobaan itu sangatlah kecil bagi Nya. Ikhlaskan segala yang tak termiliki dan bersabarlah. Dalam hidup, sebaiknya kita lebih banyak bersyukur daripada mengeluh. Insya Allah dilema akan sirna di hatimu.
TAMAT