Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

Novel | Smile To Love (Chapter 12)

Chapter 12
Ujian Cinta Rina


Rina tampak berdiri tegang di depan sebuah pintu. Sebelum membukanya tak lupa ia panjatkan doa dan menghela nafas panjang. Segenap kekuatan batin ia kumpulkan dan Ia pun membuka pintu.
Kakek terbaring di atas sebuah ranjang. Perasaan sedih Rina pun bergejolak hingga air matanya pun mulai mengalir.
Kek…
Kakek jangan mati dulu yah. Rina belum sempat membalas segala kebaikan Kakek. Selama ini Rina selalu aja merepotkan Kakek… merepotkan Nenek. Keluarga yang Rina kenal cuma Kakek dan Nenek. Kalo Kakek pergi… Rina dan Nenek pasti kesepian. Rina gak mau kehilangan candaan Kakek, cerita-cerita seru Kakek dan rumah pasti jadi sepi tanpa guyonan Kakek.

Novel | Smile To Love (Chapter 11)

Chapter 11
Wanita Dari Masa Lalu


“Apakah aku kejam karena sudah merencanakan ini? tapi kurasa ini lebih baik. Biarlah aku dibilang jahat atau kejam tapi aku harus melakukan ini. Jika taruhan ini aku menangkan, maka aku akan dengan tegas memutuskan hubunganku dengan Rina.” Ricky membatin sambil menatap layar kaca di hadapannya.
Malam itu pertandingan bola berlangsung seru. Ricky sudah bertanya sana-sini mengenai peluang tim yang akan menang lewat internet. Karena itu dia yakin kalau timnya bakal menang dengan persentasi 55 persen kemenangan.

Selasa, 04 Juni 2013

Novel | Smile To Love (Chapter 2)

Chapter 2
Pernyataan Cinta Rina


SMU Permata Bangsa masuk pukul 7.15 pada hari jumat, sedangkan hari biasa pada pukul 8.00. Banyak sekali yang sering datang terlambat pada hari ini, tapi masih dapat ditoleransi jika belum lewat pukul 7.30. Batas toleransi keterlambatan di SMU ini hanya 15 menit.
Rina berlari setelah turun dari bis yang berhenti di perempatan jalan menuju sekolahnya. Bukan karena kabur karena nggak bayar ongkos, tapi karena jam tangan pink di tangan kanannya sudah menunjukkan pukul 7.39 menit. Jalur bis kota tidak melewati depan SMU Permata Bangsa, tetapi seratus meter dari sekolah ini, terdapat jalan raya yang dilalui berbagai jenis kendaraan angkutan. Seperti Bis, Metromini dan sejenisnya.
Gerbang sekolah terlihat dari kejauhan telah tertutup rapat dan ada seorang guru yang berada di balik gerbang itu. Sekitar tiga orang murid sedang berdiri mendengarkan ceramah si penjaga gerbang tadi. Rina pun menghentikan langkahnya.

Novel | Smile To Love (Chapter 1)

Chapter 1
Pertemuan Tak Terduga

Aku kembali menjadi terasing. Kembali dibawa ke kehidupan yang baru. Mengapa mereka memutuskan seenaknya. Padahal pindah ataupun tidak tetap saja mereka menganggap rumah sebagai persinggahan sementara, dan bukan sebagai tempat tinggal. Padahal aku telah menemukan cinta ditempatku yang dulu. Aku mulai terbiasa, mulai diterima, mulai mendapat kedamaian. Semua itu karena satu cewek itu, yang menjadi malaikat bagiku. Kini aku harus meninggalkan semua itu cuma gara-gara keegoisan seseorang. Jauh menyebrangi lautan yang luas, kini aku berdiri di daratan yang berbeda dari sebelumnya.  Padahal di sanalah cintaku...

“Den! Sudah sampai.” Suara Pak Udin, supir pribadi keluarga Haryadi, menyadarkan Ricky dari lamunannya.
“Eh! Iya, jadi ini sekolahnya?” Ricky memastikan.
“Iya Den, semua berkas sudah di bereskan minggu lalu sama Pak Hendra. Jadi tinggal melapor ke kepala sekolahnya.” Jelas Pak Udin.
“Oh gitu. Ya udah aku masuk dulu ya.” Ucap Ricky.
“Den! Mau ditemani?”
“Nggak usah. Saya bisa sendiri kok. Pak Udin pulang aja dulu.”

Kamis, 09 Mei 2013

Novel | Bintang, Bulan dan Matahari - Prologue



PROLOGUE


Dahulu… Matahari adalah sebuah bintang. Dia berpetualang di angkasa sendirian. Semakin hari cahayanya mulai meredup karena dia selalu merasa sendirian di angkasa. Dia selalu merasa bahwa hanya dia bintang yang ada di galaksi.
Suatu hari Tuhan mempertemukannya dengan Bulan. Tapi karena bulan tidak memiliki cahaya sendiri, bintang itu memberikannya cahaya hingga bulan pun menjadi terang. Bintang pun senang karena dia punya teman di angkasa.
Bintang menyukai Bulan, namun dia sadar bahwa Bulan adalah sosok batu besar yang tidak memiliki cahaya. Bila tak disinari oleh Bintang, Bulan pasti akan redup dan mati. Bintang pun menjadi sedih. Bintang ingin cahaya lain ada untuknya dan bersama-sama menerangi seluruh alam.
Namun bintang pun tak putus asa dia terus memancarkan sinarnya hingga terang benderang. Dia tetap tersenyum meskipun dia sendirian. Akhirnya dari kejauhan muncul titik-titik cahaya kecil yang kerlap-kerlip merespon cahaya sang bintang.
Ternyata cahaya kecil itu pun adalah bintang lain. Dia memiliki cahayanya sendiri. Akhirnya matahari pun sadar bahwa dia tak sendiri. Ada banyak bintang lain jauh di ujung angkasa sana. Sang matahari pun terus memancarkan sinarnya dan berharap suatu saat bisa bertemu dengan salah satu bintang yang ada disana…

Rabu, 28 November 2012

Novel | Wajah Kedua (Part 23)


Part 23
Kembalinya Sang Idola


Pagi ini suasana kelas tampak heboh sekali. Arya akhirnya muncul di sekolah setelah hampir dua minggu bangkunya berjamur dan dipenuhi sarang laba-laba karena ditinggalkan pemiliknya. Yah, gimana gak berjamur, para fansclubnya menyegel bangkunya karena kesal dengan Erni yang suka duduk di tempatnya. Padahal Erni hanya ingin berbagi cerita denganku. Tapi otak para fansclub Arya makin ngeres aja tuh.
Dan para cewek-cewek pun mulai berhias diri menyambut kedatangan Arya. Para fansnya pun menyambut kedatangan Arya dengan penuh suka cita. Bahkan sebuah spanduk gede terpampang di pintu gerbang sekolah bertuliskan. “Welcome Home Arya.”

Minggu, 25 November 2012

Novel | Wajah Kedua (Part 21)


Part 21
My First Love


Setiap habis menerima telepon dari Arya, jantungku selalu saja berdebar-debar. Aku pun kembali masuk ke café. Jadi bingung nih, gimana kalo mereka tanya macem-macem. Siapa yang telepon? Kapan kamu punya HP? Dan pertanyaan-pertanyaan mencurigakan lainnya.
Aku berjalan menghampiri meja makan sambil mencari-cari alasan untuk jawaban pertanyaan mereka nanti. Dan semoga saja mereka nggak nanya sampai detil-detil gitu.
Aku pun duduk kembali di kursiku namun sepertinya raut wajah mereka agak berubah. Mereka tampak serius dan menatapku dengan senyuman. Aku jadi risih. Apa mereka tahu kalo HP ini dari Arya atau tahu kalo yang menelepon tadi Arya? Masa sih? Sejak tadi kan mereka bertiga terlihat duduk dan bercerita sambil kettawa-ketiwi.

Jumat, 22 Juni 2012

Novel | Wajah Kedua (Part 14)


Part 14
Dilema Erni

Sore ini aku jalan-jalan ke mal bareng Erni dan Tuti. Erni pingin cerita tentang orang yang menembaknya. Aku masih penasaran siapa yang berani nembak Erni? Dia mesti melewati hadangan Tuti sebelum mendapatkan Erni. Karena Itu Erni mau cerita ke Tuti.
Baru kali ini Erni terlihat agak hati-hati menanggapin cowok. Apa Erni juga suka sama cowok itu?
Kami bertiga berjalan-jalan sambil membeli beberapa aksesoris. Tuti gak beli apa-apa. Kebetulan dia hanya ingin mencetak beberapa hasil jepretannya lewat kamera digitalnya. Tuti memang bergabung dengan klub pers sekolah dan dia di bagian dokumentasi.

Kamis, 10 Mei 2012

Novel | Wajah Kedua (Part 7)


Part 7
Tragedi Jus Mangga


Keesokan paginya…
“RENIIII” suara teriakan Erni memecah ketika aku baru aja turun dari angkot.
“Erni? Ada apa!” aku heran, pagi-pagi gini Erni sudah pasang tampang juteknya.
“Ren! Kamu kok tega banget sih ninggalin aku sendirian.” Protes Erni.
“Habisnya kamu sih. Udah capek-capek manggil malah keasyikan nonton.” Ucapku.
“Tapi, kenapa kemarin kamu ngasih minuman ke Arya. Nyari perhatian ya?” Erni seakan menginterogasiku. Aku hanya tertawa nanggepin ucapannya. Sepertinya Erni cemburu.
“Sebenarnya gini, kemarin tuh Arya yang minta minuman itu. Waktu itu aku udah beli dua minuman. Jus Mangga punyaku dan juga soda pesanan kamu.” jelasku.

Rabu, 09 Mei 2012

Novel | Wajah Kedua (Part 5)


Part 5
Sebuah Tawaran


Mimpi apa ya aku sampai bisa kedatangan Arya. Bahkan bisa bercakap-cakap tanpa canggung. Hari ini terasa begitu indah, langkahku pun lebih ringan dan udara terasa sejuk, walaupun kendaraan-kendaraan mulai memenuhi jalanan dengan polusinya.
Setibanya di depan gerbang sekolah, lagi-lagi aku dihadang oleh dua orang cewek. Tapi, kali ini bukan Siti atau Mala. Sepertinya anggota fans klub Arya yang lain. Apa di rumahku ada mata-matanya ya? Bagaimana mereka tahu kalo Arya kemarin datang?
“Hi!” sapa salah seorang cewek. Ia memiliki wajah cantik dengan make up minimalis dan memegang setumpuk kertas.

Kamis, 21 April 2011

Cerpen | Menanti Jawaban Sahabat

Hari itu, merupakan hari yang sangat mengharukan bagiku. Tak kusangka, sahabat terbaikku sejak kecil akan pindah. Saat itu aku masih duduk di kelas 1 SMP. Aku memberinya sebuah kenang-kenangan, sebuah kalung dengan inisial namanya, “S”.
Waktu berlalu seiring kepergiannya, dan aku masih sering berkirim surat padanya. Semua surat-suratnya ku simpan dalam sebuah kardus kecil dan kuanggap sebagai Harta berhargaku. Komunikasi lewat surat berlangsung selama 3 tahun ini. Kadang surat yang kutulis, balasannya baru datang 2 minggu kemudian, bahkan pernah 3 bulan balasannya datang. Tapi aku tak pernah lelah menunggunya. Selembar kertas itulah yang mendekatkan diriku dan dirinya. Sesekali aku mengirimkan fotoku dan ia pun mengirimkan fotonya. Meskipun kami terpisahkan oleh lautan luas, aku serasa dekat dengannya. Di saat aku mulai menarikan pena di atas selembar kertas, aku serasa berbicara padanya. Dia seperti duduk di sampingku dan mendengarkan segala keluh kesalku.