Tampilkan postingan dengan label Kisah Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sedih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

Novel | Bintang, Bulan dan Matahari - Chapter 1


- 1 -
BOLA BASKET

“Sebuah pertemuan adalah sebuah takdir yang menambah warna kehidupan kita. Setiap pertemuan pasti manis namun ada juga sebuah pertemuan yang pahit. Yang terpenting bukan masalah pertemuan itu manis atau pahit. Yang terpenting adalah bagaimana kelanjutan dari sebuah pertemuan itu berbuah proses silaturahmi yang baik. Maka takdirmu pun akan tertulis bersama proses itu.”

***

Slam Dunk. Itu judul komik kesukaanku. Dari komik itulah aku mulai terpikat dengan permainan bola basket. Aku jadi terobsesi dengan permainan ini dan begitu serius menekuninya sejak kelas satu SMP dulu hingga kini kuliah.
Hari itu pertandingan Three On Three diadakan di Kampusku. Three On Three adalah sebuah pertandingan basket tiga orang melawan tiga orang dengan sistem setengah lapangan. Untuk mengikuti pertandingan ini, tiap Tim harus mendaftarkan sebanyak empat orang anggota Tim. Kebetulan teman ku kekurangan anggota karena mereka hanya bertiga.

Selasa, 03 Mei 2011

Cerpen | Aku dan Adikku


“Kak! Icha ada PL nih. Cucah deh.” Suara ini mengagetkanku dan membuyarkan konsentrasiku.
“Nanti aja. Kakak lagi sibuk nih.” Tolakku.                         
“Umm! Kakak juga kelja PL ya?” tanyanya.
“Iya. Makanya jangan ganggu ya?” ucapku.
Nur Siti Aisyah nama adikku. Aku memanggilnya Icha. Dia baru duduk di kelas 1 SD. Sebenarnya dia bukan adik kandungku karena Papa menikah lagi dengan Mamanya Icha. Seorang janda muda yang suaminya meninggal saat Icha masih berumur satu tahun. Papaku adalah teman kantornya dan mereka pun saling cocok dan akhirnya menikah. Saat itu Icha masih berumur 3 Tahun namun dia tak merasakan dilema seperti yang aku rasakan.
Butuh waktu satu tahun bagiku tuk memanggil Mama Icha sebagai Mama. Dan sampai sekarang aku masih risih dan sering menghindari Icha. Padahal sebenarnya dia lucu dan imut, sayang aku tak siap memiliki seorang adik sejak Mama ku meninggal 5 tahun lalu.
Pagi itu aku sarapan sendiri karena Papa dan Mama sudah berangkat ke kantor. Terpaksa aku yang harus menyiapkan makan pagi untuk Icha. Telur mata sapi ditambah roti bakar. Itulah menu andalanku untuknya.

Kamis, 21 April 2011

Cerpen | Menanti Jawaban Sahabat

Hari itu, merupakan hari yang sangat mengharukan bagiku. Tak kusangka, sahabat terbaikku sejak kecil akan pindah. Saat itu aku masih duduk di kelas 1 SMP. Aku memberinya sebuah kenang-kenangan, sebuah kalung dengan inisial namanya, “S”.
Waktu berlalu seiring kepergiannya, dan aku masih sering berkirim surat padanya. Semua surat-suratnya ku simpan dalam sebuah kardus kecil dan kuanggap sebagai Harta berhargaku. Komunikasi lewat surat berlangsung selama 3 tahun ini. Kadang surat yang kutulis, balasannya baru datang 2 minggu kemudian, bahkan pernah 3 bulan balasannya datang. Tapi aku tak pernah lelah menunggunya. Selembar kertas itulah yang mendekatkan diriku dan dirinya. Sesekali aku mengirimkan fotoku dan ia pun mengirimkan fotonya. Meskipun kami terpisahkan oleh lautan luas, aku serasa dekat dengannya. Di saat aku mulai menarikan pena di atas selembar kertas, aku serasa berbicara padanya. Dia seperti duduk di sampingku dan mendengarkan segala keluh kesalku.

Rabu, 16 Maret 2011

Maafkan Aku Sasya...


Namanya Salsabila. Aku biasa memanggilnya Sasya. Lidahku agak aneh saat mengucap huruf “L”, sehingga “Salsa” ku ucap jadi “Sasa”. Dia adik sepupuku yang berusia 6 tahun. Meskipun dia kadang sangat menjengkelkan, namun aku tetap menyayanginya. Dia adalah malaikat penolongku yang menolongku dari kematian. Sayang aku sudah terlambat menyadari nasihat darinya...
***
Aku adalah seorang wanita bebas dan tak terikat apapun. Karena masalah keluarga, aku kabur dari rumah dan memutuskan kuliah di Singapura. Di saat liburan semester, aku tinggal di rumah Bu’de di Batam. Sebagai rasa terima kasih karena sudah diijinkan numpang, aku selalu menjaga Butik Bu’de. Meskipun sering sunyi, tapi aku tak pernah bosan dan jenuh.
Aku bersyukur bisa mendapatkan beasiswa di sebuah universitas di Singapura. Dari 880 kompetitor nasional, aku berhasil terjaring sebagai 20 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa penuh. Aku mengambil jurusan psikologi dan aku berkonsentrasi pada psikologi remaja.
Aku juga punya seorang pacar yang sangat tampan dan perhatian terhadapku. Namanya Ricky Indra Prasetya dan orangnya sangat cool. Pokoknya tipe-tipe pangeran lah. Kakak ku, sering menyingkat namanya menjadi RIP. Saat pertama kali mendengarnya, aku tertawa dan agak jengkel juga. RIP alias Rest In Place, adalah sebuah tulisan yang tertera pada batu nisan kuburan.