Selasa, 18 Februari 2014

Novel | Smile To Love (Chapter 13)

Chapter 13
Pupus…


Ujian Semester selama seminggu pun telah selesai dan seluruh siswa-siswi SMA Permata Bangsa keluar kelas dengan wajah berseri-seri. Ada yang merayakannya layaknya pesta malam tahun baru. Rasa lega yang luar biasa dirasakan para penghuni Sekolah. Tak terkecuali Rina.
Rasa optimis hadir dalam dirinya setelah seminggu ini berkutat dengan berbagai buku pelajaran. Kalo bisa Rina ingin masuk sepuluh besar dan sekelas dengan Ricky di kelas XII nanti. Ricky sudah pasti akan masuk kelas XII-A dengan prestasinya itu.
Sistem pembagian kelas di SMA Permata Bangsa menerapkan sistem pembagian berdasarkan ranking kelas dan juga nilai. Empat puluh orang dengan nilai tertinggi akan ditempatkan di kelas XII-A.
Selama seminggu ini Rina berusaha belajar dan tidak memikirkan Ricky. Rina tampak mulai dewasa dan kebiasaan centil dan usilnya itu perlahan mulai menghilang. Namun dalam hatinya, ada rasa rindu yang sangat menggebu-gebu pada Ricky.

Selasa, 26 November 2013

Novel | Smile To Love (Chapter 12)

Chapter 12
Ujian Cinta Rina


Rina tampak berdiri tegang di depan sebuah pintu. Sebelum membukanya tak lupa ia panjatkan doa dan menghela nafas panjang. Segenap kekuatan batin ia kumpulkan dan Ia pun membuka pintu.
Kakek terbaring di atas sebuah ranjang. Perasaan sedih Rina pun bergejolak hingga air matanya pun mulai mengalir.
Kek…
Kakek jangan mati dulu yah. Rina belum sempat membalas segala kebaikan Kakek. Selama ini Rina selalu aja merepotkan Kakek… merepotkan Nenek. Keluarga yang Rina kenal cuma Kakek dan Nenek. Kalo Kakek pergi… Rina dan Nenek pasti kesepian. Rina gak mau kehilangan candaan Kakek, cerita-cerita seru Kakek dan rumah pasti jadi sepi tanpa guyonan Kakek.

Novel | Smile To Love (Chapter 11)

Chapter 11
Wanita Dari Masa Lalu


“Apakah aku kejam karena sudah merencanakan ini? tapi kurasa ini lebih baik. Biarlah aku dibilang jahat atau kejam tapi aku harus melakukan ini. Jika taruhan ini aku menangkan, maka aku akan dengan tegas memutuskan hubunganku dengan Rina.” Ricky membatin sambil menatap layar kaca di hadapannya.
Malam itu pertandingan bola berlangsung seru. Ricky sudah bertanya sana-sini mengenai peluang tim yang akan menang lewat internet. Karena itu dia yakin kalau timnya bakal menang dengan persentasi 55 persen kemenangan.

Novel | Smile To Love (Chapter 10)

Chapter 10
Rencana Ricky


Pak Udin tampak cemas melihat kemeja Ricky yang mulai berlumuran darah. Ricky pun membuka kemejanya setelah berada di dalam mobil.
“Mau ke Dokter Aris dulu den?” tanya Pak Udin.
“Tidak perlu. Aku tidak apa-apa!” Jawab Ricky.
Pak Udin pun tidak membantah dia pun melaju dengan agak cepat agar segera tiba di rumah. Biar Bi Inah dan Mbak Yanti di rumah yang ngurus luka tuan mudanya itu. Hanya itu yang ada di benak Pak Udin.
Ricky pun memandang keluar jendela sambil melamun. Pikirannya menerawang dan mengulang kejadian kemarin setelah Hana membentaknya.

Rabu, 06 November 2013

Novel | Smile To Love (Chapter 9)

Chapter 9
Kembalinya Senyuman Rina


“Ricky?”
Rina masih terdiam kaget saking nggak percayanya dengan apa yang dia lihat.
“Maaf malam-malam gini datang.” Ucap Ricky.
Rina tak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya kedatangan Ricky nggak terlalu malam sih karena jarum jam masih menunjukkan pukul 7 lewat seperempat. Rina yang salah tingkah itu pun duduk di samping Kakeknya. Rina heran dengan ekspresi hangat kakeknya itu. Biasanya kalo ada cowok mencoba dekatin Rina, Kakek biasanya sewot apalagi sejak kejadian penyerangan Jaya itu. Maklumlah, Rina cucu Kakek satu-satunya hingga sangat disayangi.
Namun kali ini Kakek malah senyum-senyum di hadapan Ricky. Entah mantra apa yang digunakan Ricky hingga bisa membuat Kakek dan Nenek jadi lembut padanya.
“Rin, kencan yuk?” ajak Ricky secara spontan tanpa basa-basi pake kata sambutan, pembukaan, isi dan penutup. Wesh, emang undangan?

Novel | Smile To Love (Chapter 8)

Chapter 8
Untuk Rina

Sudah dua hari ini Rina tampak murung. Seumur hidupnya baru kali ini dia menghadapi situasi itu. Setelah hampir diperkosa oleh Jaya, Rina yang selalu ceria itu tak masuk sekolah. Sementara Jaya pun dikeluarkan dari sekolah.
Hana sangat cemas padanya. Akhirnya dia pun menjenguknya beserta beberapa teman-temannya. Ricky meskipun bukan teman sekelasnya, dia pun merasa cemas. Padahal hampir setiap hari dia selalu menghadapi pemandangan serba Rina. Dalam diri Ricky ada perasaan kehilangan dan rindu juga. Namun Ricky tak berniat menjenguk Rina.

Minggu, 11 Agustus 2013

Novel | Smile To Love (Chapter 7)

Chapter 7
Perasaan Yang Sebenarnya

Hana berjalan sendirian menelusuri beranda di lantai dua gedung sekolah. Tiba-tiba dia melihat sekumpulan anak-anak cewek di hadapannya yang sedang bergosip, sambil memelototin Ricky yang sedang membaca di bawah pohon akasia. Hana pun menghentikan langkahnya lalu bersandar dipagar beranda dan berpura-pura melihat pemandangan. Hana tidak hobi menguping, namun ada satu kata yang membuat telinganya panas. “Cewek Centil”
Melihat situasi, kondisi dan posisi mereka yang bergosip ria, Hana bisa mengambil kesimpulan bahwa cewek centil yang dimaksud mereka adalah Rina, sahabat Hana.
“Kenapa yah mereka harus jadian. Gak serasi banget deh.” Keluh cewek pertama.
“Bener banget tuh Ra! Masih mending aku daripada cewek kecentilan kayak dia!” Cewek kedua berceloteh.

Senin, 15 Juli 2013

Novel | Smile To Love (Chapter 6)

Chapter 6
Kencan Yang Mendebarkan

“Halo?” Hana menyapa seseorang yang meneleponnya
“Han! Hari ini aku senang banget loh. Bentar sore aku mau kencan sama Ricky!” Rina mulai berceloteh tanpa basa-basi maupun salam.
“Wah, Kok bisa tuh? Serius?” tanya Hana penasaran dan takjub.
Selama ini Ricky terkesan terlalu cool dan cuek. Selama dengan Rina, Hana gak pernah sekalipun melihat atau mendengar hal-hal romantis yang dilakukan Ricky. Kadang-kadang Hana berpikir Ricky hanya mempermainkan Rina atau Rina memang kege-eran dan mengira Ricky menerima penembakannya. Rina memang gampang ge-er dan selalu mengambil keputusan tanpa mendengarkan penjelasan orang hingga akhir. Namun Hana gak pernah memberitahukan pikirannya itu ke Rina. Dia tidak mau merusak kebahagiaan sahabat nya itu. Hana berpikir lebih baik Rina tahu sendiri dari Ricky meskipun nanti dia akan sedih dan sakit hati.

Novel | Smile To Love (Chapter 4)

Chapter 4
Oh My God! Pertarungan Dimulai

Tampang bete Ricky menghiasi pemandangan pagi ini. Rina yang sejak pagi menunggu mobil Ricky di depan sekolah langsung sumringah setelah sang pangeran turun dari mobil. Tanpa merisaukan suasana kelam yang terpancar dari aura tubuh Ricky.
“Hai Ricky?” sapa Rina penuh manja dengan senyuman imutnya.
“Brisik?” jawab Ricky cuek sambil terus melangkah tanpa menoleh ke arah Ricky.
“Loh? Kok hari ini dia lain? Ada apa ya?” Rina bergumam sendirian sambil berpikir, tiba-tiba…
“HEH! Mau sampai kapan kau berdiri di situ? Cepat masuk sebelum kututp ini pagar.” Teriak Pak Togar dengan logat bataknya yang kental.

Novel | Smile To Love (Chapter 5)

Chapter 5
Big Match! Waktunya Begadang


Malam ini Rina dan Ricky tidak tidur. Jam di dinding rumah mereka sudah menunjukkan pukul 00.00 tengah malam. Mereka berdua terfokus pada layar televisi di hadapan mereka.
Yah, surat tantangan Rina kepada Ricky dibalas dan perang pun berkobar. Kebetulan besok hari minggu karena itu malam ini keduanya begadang untuk menyaksikan pertandingan bola antara Juventus dan Inter Milan.
Secangkir capuchino hangat menemani Ricky di kamarnya yang sejuk dan nyaman. Kamar Ricky sangat luas dan penuh dengan poster-poster yang tertempel di dinding kamarnya. Kamar berukuran setengah lapangan basket itu menjadi wilayah kekuasaan Ricky seutuhnya. Sebuah ranjang double bertengger di tengah ruangan sambil menempel sisi dinding berwarna biru muda. Sebuah kamar kecil disudut ruangan membuat Ricky tak perlu lagi keluar kamar untuk keperluan mandi dan toilet. Karpet berwarna jingga dan ditindih oleh sebuah sofa panjang di tengah ruangan dihadapkan ke sebuah meja kecil tempat TV LCD 40 inch.

Novel | Smile To Love (Chapter 3)

Chapter 3
Si Centil Yang Super Usil

Rina memain-mainkan pena yang ada di hadapannya sambil melamun. Ibu Sri yang sedang menjelaskan di depan, tidak terespon oleh panca inderanya dan tidak pula ada dalam lamunannya saat ini. Apalagi rumus-rumus kimia yang tertulis di papan tulis, sama sekali nggak ditengok. Tatapannya melihat ke luar jendela kelas ke lapangan bola dengan pohon-pohon kecil yang berdiri teratur mengitari lapangan itu. Sekali-kali ia terlihat menghela napas panjang seakan semua beban hidupnya ingin dibuang bersama hempasan napasnya. Kadang-kadang senyuman terukir di wajahnya yang manis, entah apa yang dilamunkannya hingga senyuman itu mengembang.

Selasa, 04 Juni 2013

Novel | Smile To Love (Chapter 2)

Chapter 2
Pernyataan Cinta Rina


SMU Permata Bangsa masuk pukul 7.15 pada hari jumat, sedangkan hari biasa pada pukul 8.00. Banyak sekali yang sering datang terlambat pada hari ini, tapi masih dapat ditoleransi jika belum lewat pukul 7.30. Batas toleransi keterlambatan di SMU ini hanya 15 menit.
Rina berlari setelah turun dari bis yang berhenti di perempatan jalan menuju sekolahnya. Bukan karena kabur karena nggak bayar ongkos, tapi karena jam tangan pink di tangan kanannya sudah menunjukkan pukul 7.39 menit. Jalur bis kota tidak melewati depan SMU Permata Bangsa, tetapi seratus meter dari sekolah ini, terdapat jalan raya yang dilalui berbagai jenis kendaraan angkutan. Seperti Bis, Metromini dan sejenisnya.
Gerbang sekolah terlihat dari kejauhan telah tertutup rapat dan ada seorang guru yang berada di balik gerbang itu. Sekitar tiga orang murid sedang berdiri mendengarkan ceramah si penjaga gerbang tadi. Rina pun menghentikan langkahnya.

Novel | Smile To Love (Chapter 1)

Chapter 1
Pertemuan Tak Terduga

Aku kembali menjadi terasing. Kembali dibawa ke kehidupan yang baru. Mengapa mereka memutuskan seenaknya. Padahal pindah ataupun tidak tetap saja mereka menganggap rumah sebagai persinggahan sementara, dan bukan sebagai tempat tinggal. Padahal aku telah menemukan cinta ditempatku yang dulu. Aku mulai terbiasa, mulai diterima, mulai mendapat kedamaian. Semua itu karena satu cewek itu, yang menjadi malaikat bagiku. Kini aku harus meninggalkan semua itu cuma gara-gara keegoisan seseorang. Jauh menyebrangi lautan yang luas, kini aku berdiri di daratan yang berbeda dari sebelumnya.  Padahal di sanalah cintaku...

“Den! Sudah sampai.” Suara Pak Udin, supir pribadi keluarga Haryadi, menyadarkan Ricky dari lamunannya.
“Eh! Iya, jadi ini sekolahnya?” Ricky memastikan.
“Iya Den, semua berkas sudah di bereskan minggu lalu sama Pak Hendra. Jadi tinggal melapor ke kepala sekolahnya.” Jelas Pak Udin.
“Oh gitu. Ya udah aku masuk dulu ya.” Ucap Ricky.
“Den! Mau ditemani?”
“Nggak usah. Saya bisa sendiri kok. Pak Udin pulang aja dulu.”

Rabu, 29 Mei 2013

Novel | Wajah Kedua (Part 40)

Part 40 – Janji Kelinking


4 tahun kemudian…
“Trus Kak Arya nyanyi lagu apa?” tanyanya.
Cewek ini terus memperhatikan ceritaku tentang masa SMA ku.
“Lagu tentang isi hatinya. Jadi Erin jangan pernah menyerah dalam menggapai cintamu.” Ucapku.
“Menurut Kak Reni, Randi suka gak sama Erin?” tanyanya.
“Erin… terkadang cinta itu adalah misteri. Menurutku sih, si Randi itu suka sama kamu.”
“Tapi Erin masih ragu sih kak!” keluhnya.
Erin, cewek ini sekarang duduk di kelas XII, yah setara dengan kelas 3 SMA saat jamanku dulu. Dan dia jatuh cinta pada adikku Randi. Randi itu sifatnya mirip dengan Arya yang suka nutupin perasaannya. Sebenarnya aku juga gitu sih. Cuma bedanya kisah cinta mereka adalah karena mereka sudah saling mengenal sejak SMP.
“Percaya aja deh dek dengan kekuatan cinta. Dulu setelah Arya menyanyi, Kakak malu banget loh dan pingin kabur dari sana. Tapi karena kekuatan cinta yah akhirnya kakak memberanikan diri bertemu Arya.” Jelasku sembari memberi semangat padanya.
“Hmm… cerita lagi dong Kak? Setelah itu gimana?” pintanya.
Aku kembali menutup mataku dan bagai mesin waktu aku seakan tersedot kembali ke masa itu…

Senin, 27 Mei 2013

Novel | Bintang, Bulan dan Matahari - Chapter 2


- 2 -
SERANGAN VIRUS

Kesempatan adalah salah satu pintu takdir. Kesempatan merupakan ujian untuk menguji tindakan kita atas momentum-momentum yang terjadi dalam hidup kita. Jadi, setiap momen adalah kesempatan dalam hidupmu untuk menentukan takdirmu selanjutnya.”

***

“NOE!”
Terdengar suara teriak memanggil namaku dari lantai dua tempat kos ku. Aku sangat mengenal dengan jelas suara ini. Yah, suara Kak Linda penghuni kamar di lantai atas. Dia adalah bendahara di tempat kos ini sekaligus sosok yang paling senior di sini. Dia mahasiswi jurusan farmasi Kampus Al-Gazali semester akhir sekaligus salah satu “kakak kesayangan”. Hahaha, ya ampun pake tanda kutip segala.
Kak Linda termasuk salah satu mahasiswi tercantik di kompleks ini. Namun aku menganggapnya sebagai Kakak dan dia pun menganggapku sebagai adik. Dia juga punya pacar yang sangat keren. Kadang-kadang kalau aku lapar, aku ke kamarnya menumpang makan atau minjem nasi. Hehehe.
“NOE!!!”
Yup, ini dia salah satu resiko dianggap adik. Kalo ada panggilan seperti ini, biasanya dapat jatah disuruh-suruh nih. Aku segera naik ke lantai dua sebelum volume suara Kak Linda semakin meninggi.

Novel | Wajah Kedua (Part 39)


Part 39
Wajah Kedua Arya


“Yupz persembahan berikutnya. Meski gak masuk dalam schedule kita namun kami memberi kesempatan pada mereka yang selama dua tahun ini menghiasi sekolah dengan kehebohannya. Inilah Goodbye Arya’s Dance dari para fansklub Arya.” Igor sang MC memandu acara ini dengan heboh.
Satu persatu anggota fansklub Arya naik kepanggung dengan mengenakan seragam cheerleader. Dengan gaya genitnya mereka melenggak-lenggok di antara para penonton.

Sabtu, 25 Mei 2013

Novel | Wajah Kedua (Part 38)

Part 38
Ungkapan Hati

Kata Pak No, penjaga sekolah kami, pohon ini ditanam siswa angkatan pertama saat kelulusan. Usia pohon ini sudah 15 tahun dan banyak kenangan telah terjadi di bawah pohon ini. Pohon akasia setinggi 5 meter dengan dahan pohon menjulang keluar sehingga terlihat seperti payung dari kejauhan.
Banyak orang yang menyatakan cintanya di bawah pohon ini loh. Emang suasana di sini sangat romantis banget. Tapi, apa Arya akan melakukan tradisi penembakan di bawah pohon akasia ini yah?
Siang ini aku duduk di sebuah bangku panjang yang sengaja diletakkan di bawah pohon ini. Teriknya mentari terhalangi oleh rindangnya dedaunan pohon ini.  Suara daun yang bergesek tertiup angin bagai nyanyian alam yang membuatku terkantuk.
Sosok Arya muncul di hadapanku. Wajahnya tersamarkan karena sinar matahari yang menyilaukan mataku berpendar dari balik tubuhnya.

Novel | Wajah Kedua (Part 37)

Part 37
Buku Orange


Akhirnya hari ujian pun tiba. Ketegangan menyelimuti kami. Rasa tegang ini telah mengusir rasa sedihku yang kupendam. Dan menggantinya dengan keseriusan serta tekad untuk mengalahkan ketegangan ini.
Para anggota fansklub Arya pun sudah mengurangi aktifitasnya. Namun mereka sempat buat aku dan Arya repot. Tempat duduk Arya dipenuhi dengan berbagai ucapan selamat belajar serta kata-kata penyemangat lainnya. Alhasil karena gak ada tempat lagi, terpaksa bangku ku pun jadi sasarannya.
Untung saja hari kedua ujian sudah gak ada lagi kertas-kertas itu. Para anggota Fansklub Arya sudah mulai insyaf dan belajar dengan serius di hari-hari berikutnya.

Novel | Wajah Kedua (Part 36)

Part 36
Pangeran Hati


“Kalian tahu Walt Disney? Dia adalah pencipta Mickey Mouse. Film kartun yang sering kalian tonton saat masih kecil itu. Bahkan mungkin masih ada yang suka menontonnya seperti aku.” Canda Pak Guru membuat seisi kelas terkekeh dan riuh.
“Walt Disney pernah berkata. If you can dream it, you can do it. Jika kamu bisa memimpikan itu. Maka kamu dapat melakukan itu. Nah, setelah lulus kalian akan menentukan jalan hidup kalian masing-masing. Jangan pernah takut menggapai cita-cita yang tinggi.” Koar pak guru membuat seisi kelas hanyut dalam angan-angan impian kami.
Hari ini hari terakhir pelajaran karena tiga hari lagi kami akan mengikuti Ujian Nasional. Ujian sesungguhnya dan gerbang terakhir untuk mengakhiri dunia sekolah. Kami akan memasuki dunia kedewasaan. Setelah lulus kami resmi dipandang sebagai orang dewasa dan bukan lagi anak abg. Mungkin diantara kami ada yang akan langsung menikah setelah lulus SMA.

Novel | Wajah Kedua (Part 35)

Part 35
I’m Sory…


“Ren?”
Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. “Iya Ni!”
“Akhir-akhir ini kamu jadi murung. Emang kenapa sih? Aku jadi kasihan lihatnya.” Ucap Erni.
“Nggak apa-apa kok!” elakku.
“Nggak usah ngeles gitu Ren. Kamu kenapa say?” desak Erni.
Aku hanya tertunduk murung.
“Ren?” kali ini Tuti pun ikutan iba padaku.
“Entahlah!” jawabku.